Kenapa Allah Bersumpah Dalam Al-Qur'an?

 


Di usia yang hampir menginjak kepala orang ini, aku menyadari bahwa begitu banyak hal yang baru saja aku pelajari. Ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan menghancurkanku jika jalan hidup ini kutulis sendiri. Aku menyadari bahwa tidak semua jalan yang kulalui adalah pilihanku sendiri, sebagian jalan adalah pilihan Tuhan, sebagian lainnya adalah jalan yang kuratapi karena tidak bisa kutapaki. Tapi hidup adalah perjalanan, jika belum sampai tujuan maka kita belum boleh berhenti, meski kita sendiri tidak tahu ini arahnya kemana, akankah sesuai dengan apa-apa yang sudah kita minta atau bahkan sebaliknya.

Ada banyak sekali rasa kecewa, tetapi hidup ini pun bukan milik kita, bahkan udara yang kita hirup harus kita keluarkan pula, kita hanya menjalankan sesuatu yang sudah Allah tentukan. Tapi, Allah kita adalah Tuhan yang penuh rahmat dan kasih sayang, tidak akan mungkin Dia melukai kita dengan sengaja, luka-luka yang kita rasa itu karena kita belum paham, kita belum bisa menangkap apa-apa yang dimaksud Tuhan. Rasa sakit kita, sebagian besar adalah ciptaan kita sendiri, lalu kita dengan seenaknya menuduh Tuhan, menuduh Tuhan yang sudah merahmati kita dari sebelum kita lahir, lalu dengan luka kecil itu kamu bertanya pada Tuhan "kenapa aku Tuhan?". Jawaban baiknya adalah karena Tuhan tahu kamu mampu, jawaban selanjutnya adalah karena kamu sebenarnya tidak berhak untuk bertanya, sebab hidup ini bukan milik kita sepenuhnya.

Aku pernah membaca "tidak ada satu pun makhluk yang berhak meminta Allah bersumpah, tetapi Allah tetap melakukannya", dalam postingan itu tertulis bahwa Allah sering bersumpah dalam Al-Qur'an, Demi Matahari, Demi Bintang, Demi buah tin dan zaitun, Demi faja, Demi kota Makkah. Sumpah-sumpah itu tertulis di puluhan surat, diucapkan oleh dzat yang tidak pernah berhutang penjelasan kepada siapapun.

Di dunia manusia, seseorang bersumpah karena satu alasan, yaitu ada orang lain yang meragukan ucapannya. Tapi Allah? siapa yang berani meragukan firman-Nya?. Di langit, tidak ada satu pun makhluk yang ragu, malaikat bersujud tanpa berhenti, bintang-bintang bergerak di orbitnya tanpa membantah, gunung-gunung diam di tempatnya karena patuh. Hanya manusia, adalah kita yang sering meragukan kuasa Tuhan, kita sering bertanya kenapa begini kenapa begitu, disaat makhluk-makhluk Allah lainnya yang selalu tunduk dan patuh tanpa bertanya apa-apa. Kita manusia, yang sering lupa nikmat-nikmat yang Tuhan beri, lalu merasa tidak dicintai hanya karena satu luka.

Apakah Tuhan marah dengan perilaku kita yang meragukannya?. Bahkan Allah terlalu baik untuk prasangka-prasangka kita yang buruk. Lalu, untuk siapa sumpah itu ditujukan? jawabannya hanya satu, yaitu untuk kita, manusia. Allah bersumpah bukan karena Dia perlu dipercaya. Dia bersumpah karena tahu bahwa kita, hamba-hamba-Nya yang lemah, perlu penekanan lebih untuk yakin.

Bayangkan seorang raja terbesar di muka bumi apakah ia sudi bersumpah hanya untuk rakyat jelata? bahkan raja akan murka dan menganggap sebuah keraguan itu sebagai penghinaan terhadap kedudukannya. Tapi Allah? pencipta seluruh raja dan seluruh kerajaan itu justru memilih untuk bersumpah demi meyakinkan hamba-Nya yang ragu. Tanpa murka, tanpa menghukum.

Allah sang pencipta langit dan bumi, yang tidak pernah dipaksa oleh siapapun, yang tidak pernah berhutang penjelasan kepada satu makhluk pun, rela bersumpah berkali-kali di dalam firman-Nya. Bukan untuk membuktikan bahwa Dia benar. Dia memang selalu benar. Tapi untuk memeluk keraguan kita, untuk membuka jarak antara kelemahan manusia dan kebesaran-Nya.

Kita sering menuduh dan meragukan Tuhan dengan pertanyaan-pertanyaan "Benarkah Dia mendengar doaku? Benarkah Dia peduli?". Tapi lihatlah bagaimana Allah merespons keraguan itu. Bukan dengan murka, bukan dengan hukuman, melainkan dengan bersumpah berulang kali, memilih kata-kata yang paling dekat dengan dunia kita, demi satu tujuan, yaitu agar kita percaya.

Jika sang Pencipat seluruh alam semesta rela "mendekatkan" firman-Nya dengan bersumpah demi benda-benda kecil yang kita sentuh setiap hari, semata-mata agar kita yang lemah ini bisa memahami-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia sangat menginginkan kita percaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Buku "The Golden Stories of Khadijah & Fatimah"

Tentang Buku "Muhammad Sang Yatim", Prof. r. Muhammad Sameh Said

Opini Santuy Tentang Buku "Laut Bercerita"