Tentang Buku "A Thousand Splendid Suns" Khaled Hosseini
Ada buku yang selesai dibaca lalu ditutup, tapi ada buku yang selesai dibaca tapi nggak pernah benar-benar pergi, nah buku A Thousand Splendid Suns ini adalah salah satu buku terbaik pembuka 2026 yang saya baca. Cerita yang dibawa di novel ini bukan cerita yang megah, yang penuh kejutan, tapi karena ceritanya kemungkinan kehidupan nyata seseorang. Membaca buku ini membuat hati terasa berat karena penderitaan yang terus menerus dialami tokoh wanita yakni Mariam dan Laila.
Mariam adalah satu tokoh yang paling berkesan di buku ini, meski cerita sudah selesai saya baca, Mariam tetap berada di kepala saya. Bukan karena dia heroik, tapi karena dia terlalu familiar dalam cara ia menerima hidupnya. Cara dunia yang terus-menerus menunjukkan bahwa keberadaannya adalah kesalahan. Kita tidak sedang menyaksikan tragedi yag meledak, tapi erosi perlahan atas martabat manusia.
Laila adalah karakter yang muncul di tengah novel, saya berpikir bahwa ini cerita lain tapi pertemuan Mariam dan Laila terasa seperti dua garis hidup yang sama-sama remuk, lalu saling menopang bukan karena pilihan bebas tapi karena memang tidak ada pilihan lain. Tapi dari keterpaksaan itu muncul hubungan yang paling tulus dalam novel ini. Bukan cinta yang dipilih, melainkan cinta yang tumbuh karena sama-sama terluka. cinta yang muncul bukan sebagai romantisasi tapi sebagai bentuk bertahan hidup.
Ada bagian-bagian dari yang membuat saya berhenti sejenak, bukan karena bosan tapi karena lelah secara emosional. Cerita Mariam membuat saya berandai-andai, andai Mariam tidak meninggalkan Nana, andai Mariam hanya diam apa semua akan baik-baik saja?. Karakter yang dibangun lewat tekanan, bukan lewat perenungan membuat buku ini semakin dekat dengan pembaca, karena tidak menutup kemungkinan banyak sekali Mariam-Mariam di luar sana. Tentang wanita yang menerima kekerasan domestik, pernikahan yang timpang, dan rasa tidak berharga yang tidak dijelaskan dengan nada mengiba, semua disajikan apa adanya membuat pembaca merasakan kepedihan tanpa harus diarahkan untuk menangis.
Sempat merasa bosan dipertengahan novel, tapi saya tetap menyukai novel ini, bukan karena ia sempurna tapi karena ia jujur dalam menyajikan semuanya. Novel ini tidak menjanjikan keselamatan, tidak menawarakan pelipur lara murahan, dan tidak pura-pura bahwa penderitaan bisa ditebus dengan keindahan.
Buku ini sangat recommended untuk dibaca, menurut saya buku ini nyaris sempurna, jadi 9/10 untuk buku ini. Selamat membaca!!!
Komentar
Posting Komentar