Tentang Buku "Laki-laki Memang Tidak Menangis, Tapi Hatinya Berdarah, Dik" Rusdi Mathari


 Buku ini menjadi buku pertama dari Rusdi Mathari yang saya baca, awalnya jujur memang tertarik sama judulnya yang mengandung luka dan pada akhirnya saya menyukai tulisan-tulisan beliau. Buku ini bermain di wilayah emosi yang akrab bagi laki-laki, tentang diam, tekanan yang menuntut untuk kuat, tentang perasaan yang tidak pernah diberi ruang. Buku ini seperti ingin mewakili setiap isi hati laki-laki, bahwa maskulinitas sering kali adalah topeng, dan dibaliknya hanya manusia rapuh, bingung dan lelah.

Secara isi buku ini lebih terasa seperti kumpulan refleksi ketimbang narasi yang utuh dan beralur. Tidak menawarakan plot yang kompleks, tapi lebih pada potongan-potongan batin: tentang ayah yang tak pernah memeluk, tentang anak lelaki yang tumbuh dengan larangan menangis, tentang cinta yang tak terucap, tentang kegagalan yang dipendam sendirian. Bahasanya cenderung langsung, emosional, kadang puitis, kadang repetitif. Ada bagian yang terasa menyentuh, terutama ketika ia berbicara tentang kesepian lelaki yang tidak pernah benar-benar diajarkan cara mengungkapkan luka.

Namun di sisi lain, kekuatannya sekaligus menjadi kelemahannya. Karena terlalu fokus pada perasaan, beberapa bagian terasa seperti curhat yang diulang-ulang dengan diksi yang mirip. Ia tidak banyak bermain dengan metafora yang dalam atau eksplorasi karakter yang kompleks, lebih pada afirmasi emosional yang mudah dicerna.

Yang menarik adalah bagaimana buku ini memotret konstruksi sosial tentang laki-laki. Ada kritik yang cukup jelas terhadap budaya yang memaksa lelaki untuk menelan kesedihan, menormalisasi beban, dan menyebut air mata sebagai kelemahan. Di titik ini, bukunya relevan dan penting, terutama untuk pembaca muda yang mungkin sedang bergulat dengan identitas dan ekspektasi.

Tapi apakah ia akan terasa “wah”? Itu tergantung ekspektasi. Kalau kamu mencari pengalaman membaca yang mengguncang secara literer, mungkin tidak. Tapi kalau kamu ingin bacaan yang mengafirmasi perasaan, yang terasa seperti teman yang berkata, “nggak apa-apa kok kamu capek,” maka buku ini bisa terasa hangat.

Menurutku, buku ini bukan tentang kualitas teknis yang luar biasa, tapi tentang resonansi. Ia tidak mencoba jadi mahakarya, ia ingin jadi pelukan. Dan bagi sebagian orang, itu sudah cukup. Buku ini sangat rekomended untuk dibaca. Selamt membaca!!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Buku "Muhammad Sang Yatim", Prof. r. Muhammad Sameh Said

Opini Santuy Tentang Buku "Laut Bercerita"

Tentang Buku "The Golden Stories of Khadijah & Fatimah"