Tentang Buku "The Kite Runner" by Khaled Hosseini
Buku ini menceritakan tentang 2 sahabat Amir dan Hassan, tidak hanya menceritakan tentang persahabatan keduanya tapi tentang perasaan bersalah, penghianatan, kelas sosial dan kejadian-kejadian menyakitkan akibat peperangan.
Dalam buku ini hubungan Amir dan Hassan menjadi jantung ceritanya, dari awal penulis sudah menanamkan ketimpangan itu dengan halus, dan ketika penghianatan terjadi rasanya ada sesuatu yang patah. Menurutku awal cerita dibangun dengan begitu baik, meski menuju pertengahan cerita terasa sedikit menjenuhkan. Gaya penulis relatif sederhana, tidak serumit sastra yang eksperimental, tapi dengan kesederhanaan itu yang membuat emosinya terasa mentah dan langsung.
Setelah membaca buku A thousand splendid suns saya berharap banyak pada buku ini, tapi ternyata penulis memang membuat buku yang berbeda begitu pula strukturnya. Menurut saya secara emosional, A Thousand Splendid Suns lebih "menghancurkan". Cerita Mariam dan Laila terasa lebih konsisten menekan dari awal sampai akhir. Penderitaannya bukan satu peristiwa besar yang membekas seperti di The Kite Runner, tapi akumulasi luka yang pelan-pelan menyesakkan.
The Kite Runner lebih personal dan reflektif. Buku ini kuat dalam tema rasa bersalah dan penebusan, tapi alurnya terasa lebih melodramatis di beberapa bagian. Kalau ditanya mana yang lebih bagus secara kualitas cerita dan kedalaman emosi, maka saya cenderung bilang A Thousand Splendid Suns lebih utuh dan kuat. Tapi kalau ditanya mana yg lebih memiliki momen paling ikonik maka The Kite Runner memiliki itu.
Kalau ngomongin kelebihan The Kite Runner, menurutku ada beberapa hal yang memang kuat banget meskipun pacing-nya sempat bikin kamu bosan di tengah.
Pertama, tema rasa bersalah dan penebusan-nya itu tajam banget. Konflik Amir bukan cuma eksternal, tapi moral. Dan itu jarang ditulis dengan se-“telanjang” ini. Banyak novel bicara soal salah dan maaf, tapi di sini rasa bersalahnya panjang, bertahun-tahun, dan nggak pernah benar-benar hilang. Itu yang bikin cerita ini punya bobot psikologis.
Kedua, simbolisme layang-layangnya kuat banget. Layang-layang bukan cuma permainan masa kecil, tapi jadi metafora untuk pengkhianatan, cinta, dan penebusan. Itu simbol yang sederhana tapi nempel. Makanya banyak orang masih ingat novel ini bertahun-tahun setelah baca.
Ketiga, aksesibilitas emosinya tinggi. Bahasa yang dipakai relatif simpel dan langsung. Jadi meskipun temanya berat, pembaca luas bisa masuk. Ini salah satu alasan kenapa novel ini meledak secara global nggak terasa eksklusif atau terlalu “sastra berat”.
Keempat, ikatan ayah-anak antara Amir dan Baba. Relasi itu kompleks dan realistis. Ada kebanggaan, jarak, ekspektasi, dan luka. Dinamika ini justru jadi fondasi kenapa Amir melakukan apa yang dia lakukan.
Kelima, bagian awal dan akhir novel itu kuat banget. Opening-nya langsung bikin penasaran, dan babak penebusannya emosional meskipun terasa dramatis.
Jadi meskipun kamu merasa tengahnya agak monoton (dan itu valid banget buat pembaca plot-driven), novel ini tetap punya kekuatan di kedalaman moral dan simboliknya.
Kalau disimpulkan simpel:
A Thousand Splendid Suns unggul di konsistensi alur dan intensitas, tapi The Kite Runner unggul di tema rasa bersalah dan simbol yang ikonik.
Komentar
Posting Komentar