Postingan

Bacaan Pertama di 2023

Gambar
oke kali ini saya akan berbicara tentang buku, tentu tidak berat karena selera buku saya juga bukan buku-buku serius. Bagi saya membaca adalah sebuah hiburan, layaknya menonton film atau drama atau hal-hal lain sebagai upaya pelepas penat. Buku pertama yang saya baca di 2023 adalah bukunya mas Agus Mulyadi yang berjudul Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih, dari judul dan sampul saja sudah bisa disimpulkan bahwa buku ini adalah bentuk kebucinan mas Agus terhadap istrinya yakni mbak Kalis. Di lembar pertama setelah identitas buku, kami sebagai pembaca disuguhkan satu paragraf bentuk ungkapan cinta yang ugal-ugalan dari mas Agus, sesuai dengan tulisan-tulisan biasanya, tetep lucu dan gleger .  Pada kata pengantar, mas Agus sedikit menyinggung tentang perjalanan kisah cintanya dengan mbak Kalis yang ora umum alias unik. Tentu sesuai dengan sampulnya, buku ini berhasil membuat saya cengar-cengir di kereta, karena kebetulan saya membaca buku ini saat perjalanan menuju Banyuwangi. Alih-al...

Aku dan Umur Baruku

Gambar
  Setelah sekian purnama tidak menjamah platform ini, akhirnya saya kembali, tentu dengan perasaan bahagia. Betul, yang pertama karena hari ini saya mengulang hari dimana ibu saya berjuang antara mati dan hidup untuk membuat saya menyicipi gemerlap dunia yang penuh dengan kefanaan ini. Alhamdulillah saya dulu lahir sehat, tentu sampai sekarang, tentu juga ibu saya, beliau tadi telfon "hari ini kan ulang tahunmu", orang yang selalu ingat ulang tahun saya tapi tidak pernah menyanyikan lagu ulang tahun (gatau dulu waktu saya masih kecil, soalnya lupa hehe) tapi saya yakin doa beliau selalu mendampingi tiap langkah lemah yang saya ambil. Ayah? apalagi beliau, lelaki cancer idaman yang entah diam-diam ingat atau bahkan lupa bahwa hari ini adalah ulang tahun anaknya (bahkan dulu ayah saya sering lupa saya kelas berapa), tapi saya selalu yakin, diantara tasbih yang berputar di jari n ya selalu tersemat doa untuk anak keduanya yang batu dan sok kuat ini. Saya tidak pernah membayangka...

Aku dan Puisi

Gambar
     Kalau ditanya kapan pertama kali saya mengenal puisi, seingat saya ya waktu saya masih SD dulu, waktu pelajaran bahasa Indonesia, puisi yang saya baca dulu berjudul "Guruku", saat itu saya sudah tersentuh dengan bahasanya (meski saya lupa siapa penulisnya), dulu saya sudah diajari mengenal bait, sudah mengenal ritme, dan itu cukup menarik bagi Datus kecil. Tapi, dulu saya juga benci sekali dengan puisi, saya benci karena disuruh buat puisi sendiri, saya benci karena saya merasa kesulitan, perasaan itu lebih nyebelin daripada menghitung soal matematika yang enggak ada jawabannya. Lebih nyebelin lagi kalau disuruh baca puisi di depan, buat manusia yang tidak terlalu suka show up di depan, saya merasakan getaran yang begitu hebat alias ndredeg atau tremor atau gemeter atau sebangsanya itu lah. Kalau disuruh milih, dulu saya lebih milih bikin pantun tanam-tanam ubi tak perlu dibajek daripada bikin puisi yang harus mengumbar perasaan baik lewat tulisan atau saat membacaka...

Membuka September Bersama Hujan dan Lagu Mangu Fourtwnty

Gambar
  Sepertinya menonton konser akan menjadi kegiatan rutinan saya (asal saya suka artisnya), bisa-bisanya menonton konser tidak semenyeramkan dulu. Saya masih ingat betul bagaimana pertama kali saya berada di tengah-tengah lautan manusia, saat itu alm. Didi Kempot kambali mengudara, banyak cah cidro yang menunggu-nunggu untuk cidro bareng diiringi kendang yang yahud . Saya yang sedari kecil dijejali lagu-lagu Didi Kempot merasa terpanggil, saya memberanikan diri ikut konser meski membayangkannya saja saya dulu tidak sanggup. Benar saja, saat saya berada di tengah-tengah manusia, saya merasa sesak. Saya yang benci keramaian berusaha menguatkan diri untuk tegar berdiri dan berusaha kokoh seperti semen gresik, saya sempat nggliyeng seperti ikan yang habis diobok-obok, ngglele poll. Tapi melihat sekitar, terpampang nyata manusia-manusia yang cek orkesnya, saya menampar diri saya "ayo tus, tahan!!". Saya berusaha menenangkan diri dan melihat ke atas untuk mencari udara, mungkin ji...

Menutup Juni Bersama Kunto Aji

Seperti lirik lagu Hindia - Mata Air (bisa diputar lagunya saat membaca tulisan ini), "Menghabiskan gaji untuk diriku sendiri, membeli satu tiket film terkini, memesan yang cukup hanya untuk satu porsi, menyanyikan kunto aji di tengah muda mudi", lirik itu cukup mewakili para muda mudi yang sesekali melakukan self reward agar tetap rekoso kerjo, karena hidup ini sudah cukup bangsat bahkan ketika kita enggak ngapa-ngapain, jadi sesekali menyenangkan diri sendiri juga ndakpapa. Lah kalo bukan diri sendiri mau siapa lagi yang mau nyenengin kamu?, kan kamu jomblo haha.           Saya adalah manusia yang jarang melakukan self reward yang ndakik-ndakik , karena beli seblak saja saya sudah seneng, hati saya sudah gembira melihat kuah merahnya atau sekedar beli eskrim saja saya sudah merasa melakukan self service yang baik, padahal bagi orang lain atau bahkan kamu yang baca membathin " mek ngunu tok ?", Iya, ngunu tok kok, suimpel . Karena memang kadar kebahag...