Tentang Buku "Kertas Basah" Dea Anugrah
Sebenarnya saya tidak punya kapasitas untuk mereview buku Dea Anugrah, karena saya merasa buku apapun yang beliau tulis adalah buku terbaik yang saya baca. Saya selalu suka gaya Bahasa yang ditulis padea, saya tidak bisa merasakan perbedaan beliau saat menulis cerpen, puisi atau bahkan novel, menurut saya semuanya ditulis dengan sempurna, sesuai dengan kebutuhan tulisan masing-masing.
Tapi buku ini sangat unik, buku dengan halaman yang tidak sampai mencapai 30 halaman. Pertama kali pegang buku Kertas Basah kesan yang muncul adalah “ini buku tipis banget ya”, tapi setelah saya baca bukunya, sedikit agak pusing ya hehe.
Dea Anugrah menulis dengan gaya khasnya yang pelan, tenang tapi menohok. Menurut gambaran yang saya baca, buku ini terasa lembut, rapuh tapi menyimpan sesuatu yang belum selesai – kayak lembar hidup yang belum sempat kering dari air mata dan hujan.
Saya selalu suka Bahasa yang ditulis padea, Bahasa yang puitis dan indah tapi bukan puitis yang sok indah – justru sederhana, jujur dan terasa personal. Jujur setiap membaca buku-buku padea saya merasa lebih mengenal sosok padea, padahal bisa saja cerita yang dibawakan bukan cerita tentang diri beliau, tapi karena tulisannya terasa sangat personal.
Dea Anugrah selalu bisa menggambarkan perasaan yang gak bisa diungkapkan, kalau baca buku Dea Anugrah harus dalam keadaan tenang dan tidak terburu-buru, karena banyak bagian yang bikin pembaca ingin berhenti sejenak, karena membaca kalimat yang pendek tapi maknanya dalam. Padea gak banyak menjelaskan tapi lebih mengajak untuk merasakan.
Buku ini ngomongin hal-hal yang susah diucapkan : tentang tubuh yang menyimpan trauma, tentang kenangan yang tetap menempel meskipun kita sudah berusaha melupakan, dan tentang waktu yang gak benar-benar menyembuhkan. Bacanya kayak ngelihat seseorang menulis sambil berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.
Karena bentuknya tipis dan puitis, kertas basah tuh gak bisa dibaca kayak buku biasa. Ini buku yang lebih cocok dibaca pelan-pelan, mungkin sambal ditemani kopi atau hujan sore – biar tiap kalimatnya bisa benar-benar terasa.
Buku Dea Anugrah akan selalu saya rekomendasikan untuk dibaca karena buku apapun yang Dea Anugrah tulis saya selalu suka, karena saya sudah jatuh cinta dengan gaya tulisannya. Selamat membaca!!

Komentar
Posting Komentar