Tentang Buku “As Long as the Lemon Trees Grow” by Zoulfa Katouh
Buku ini adalah buku wishlistku dari lama, melihat review yang ada di sosmed sepertinya buku ini sangat menyentuh. Tapi saat membaca halama-halaman awal, saya merasa sedikit bosan sehingga saya memutuskan untuk berhenti membacanya beberapa waktu, juga karena saya sedang mengalami reading slump, sebenarnya ini adalah alasan klasik bagi pembaca yang sedang malas saja haha.
Singkat cerita saya melanjutkan membaca buku ini, dan benar menurut review-review yang bertebaran di internet bahwa buku ini sangatlah mengobrak-abrik perasaan pembacanya. Jujur saja buku ini ngena banget, emosi yang saya rasakan sangat dalam. Ceritanya tentang Salama seorang gadis Suriah yang dulu hanya mahasiswi farmasi biasa tapi hidupnya berubah total karena perang. Dia menjadi relawan di rumah sakit, yang setiap hari harus berhadapan dengan luka, darah, kehiilangan dan rasa takut yang tidak ada habisnya.
Buku ini menggambarkan bagaimana keadaan di Suriah saat perang, jujur saat membaca buku ini saya selalu memikirkan bagaimana keadaan saudara-saudara kita di Palestina, bagaimana mereka bisa hidup dalam ketakutan, kelaparan, kedinginan dan perasaan-perasaan menyedihkan lainnya. Air mata saya selalu mengalir Ketika penulis -Zoulfa- menerangkan detail demi detail tiap perasaan yang Salama rasakan saat melihat korban, bagaimana perasaan bersalahnya berkembang Ketika gagal menyelamatkan, bagaimana kesedihan itu menyelimuti tiap manusia yang ada di rumah sakit, semua terasa nyata.
Gaya Bahasa yang digunakan Zoulfa begitu puitis dan mudah dicerna meski novel ini adalah hasil terjemahan. Banyak momen yang membuat hati terasa diremas, tapi juga di sela-sela itu masih ada harapan kecil yang terus tumbuh seperti lemon yang menjadi symbol dari buku ini. Kehadiran Kenan menjadi angin segar di novel ini, juga menjadi ketakutan terbesar saya sebagai pembaca, saya khawatir kehilangan Kenan ☹️
Jujur, membaca buku ini seperti naik roller coaster, saat momen Bahagia saya selalu was-was tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, buku ini seperti menarik kita untuk merasakan trauma yang sama dengan Salama. Tapi justru itu letak serunya buku ini, ada plot twist yang membuat saya nge-freez, benar-benar nafas saya seperti berhenti dan tumpahlah air mata. Momen saat kenan berkata “Salama, no one’s here” benar-benar membuat kaki saya lemas, oh my baby Salama.
Buku ini gak takut untuk membahas tentang trauma, PTSD, kehilangan dan rasa bersalah survivor. Tapi saya menikmati tiap pembahasannya, meskipun gelap tetapi selalu ada secercah cahaya di tiap babnya.
Buku ini sangat recommended untuk dibaca, meskipun banyak luka tapi buku ini terasa hangat. Tulisan yang indah dan sangat emosional, 9/10 untuk buku dengan cerita yang indah dan seberani ini. Selamat membaca!!

Komentar
Posting Komentar